“ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan “ (QS. Al-Kahfi:46)
Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka.
Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian).
Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:
“ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. ” (QS. At-Taghaabun:15)
Jangan kita terpedaya!
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allooh Subhannahu Ta’ala. Ia menjadi angkuh dan berbangga diri karena anaknya, merasa paling tinggi dari orang lain. Ia sombong dan takabbur, bahkan merendahkan orang lain dan berlaku aniaya. Maka hal itu hanya mengantarkannya ke neraka.
Firman Allah Subhannahu Ta’ala dalam kitab-Nya :
34. “ Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya Kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya".
35. “ Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali tidak akan diazab [1].
36. “ Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui".
37. “ Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang memperoleh Balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga).”
[1] Maksudnya: oleh karena orang-orang kafir itu mendapat nikmat yang besar di dunia, Maka mereka merasa bahwa mereka dikasihi Tuhan dan tidak akan diazab di akhirat.
Anak, kerap kali mendorong ayah untuk meghalalkan usaha yang haram. Demi masa depan anak katanya…
Ia pun berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, sekalipun ia harus mendzhalimi yang lemah, memusuhi manusia atau memutus tali silaturrahim.
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang kepadanya seraya berkata,”Anakmu tadi minta ini dan itu! Maka demi anaknya, ia pun urung menginfakkan hartanya di jalan Allooh Subhannahu Ta’ala. Padahal yang diminta oleh anaknya itu bukanlah suatu kebutuhan primer.
“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.” (HR. Al-Hakim (5284) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’(1990))
Ketika ia harus mengatakan kalimat yang hak, ia berfikir dua kali. Ia takut petaka akan menimpa dirinya dan anak kesayangannya. Ia pun memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.
Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh, melanggar syari’at agama dengan ucapan maupun perbuatannya, mengugat takdir Allooh dan tidak menerima ketetapan-Nya. Ia pun membawa anaknya ke dukun padahal Nabi melarang pebuatannya itu.
Yang parah lagi, ada pula anak yang mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, Wallaahul musta’an.
Perhatikanlah orang yang tertipu disebabkan anak-anaknya dan tidak mensyukuri nikmat Allah ini! Ia adalah seorang kafir Makkah bernama Khalid bin Mughirah. Allah Subhannahu Ta’ala berkata tentangnya:
11. Biarkanlah aku bertindak terhadap orang yang aku telah menciptakannya sendirian[2].
12. Dan aku jadikan baginya harta benda yang banyak,
13. Dan anak-anak yang selalu bersama Dia,
14. Dan Ku lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,
15. Kemudian Dia ingin sekali supaya aku menambahnya.
16. Sekali-kali tidak (akan aku tambah), karena Sesungguhnya Dia menentang ayat-ayat Kami (Al Quran).
17. aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan.(QS. Al-Muddatstsir: 11-17)
[2] Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan mengenai seorang kafir Mekah, pemimpin Quraisy bernama Al Walid bin Mughirah.
Dia adalah lelaki yang dikarunia anak-anak dan Allooh menjadikan ia selalu bersama mereka untuk mengais rizki. Bahkan rizki lah yang mengelilinginya. Dan anak-anaknya senantiasa berada di sisi nya menjadi hiburan baginya. Walau demikian, ia tidak mensyukuri nikmat Allooh, bahkan dibalasnya dengan kekufuran.
Serta, Allah Subhannahu Ta’ala berfirman:
26. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.
27. Tahukah kamu Apakah (neraka) Saqar itu?
28. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan [3].
29. (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.(QS. Al-Muddatstsir: 26-29)
[3] Yang dimaksud dengan tidak meninggalkan dan tidak membiarkan ialah apa yang dilemparkan ke dalam neraka itu diazabnya sampai binasa kemudian dikembalikannya sebagai semula untuk diazab kembali.
Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari fitnah (godaan) ini?
Jadikanlah cinta pertama kita untuk Allooh Subhannahu Ta’ala. Jadikan manusia yang paling kita cintai adalah Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allooh dalam mengurus mereka.
Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam mengajarkan bahwa di antara yang dapat menghapuskan keburukan akibat godaan anak adalah mengerjakan sholat, puasa, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar. Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam bersabda: “Gangguan menimpa seseorang disebabkan keluarga, harta, anak, diri dan tetangganya dapat dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat bagi anda
Bagaimana kedudukan seorang istri menjadi kufur dihadapan
Allah?? Sebuah pertanyaan penting yang harus diketahui jawabannya oleh para
istri maupun ibu sebagai pendidik dan juga ukhti muslimah lainnya yang sedang
mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan,…tulisan dibawah ini selayaknya
menjadi bahan renungan bagi kita bersama …..
Wahai ukhti muslimah,..wahai para istri yang sedang membina biduk rumah tangga bersama suami tercinta,…tentunya engkau sangat ingin dijuluki sebagai simpanan yang paling baik diatas muka bumi ini sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:
“Ingatlah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu simpanan yang paling baik bagi seseorang? Yaitu wanita shalihah, jika suami memandangnya, maka dia membuatnya senang, jika suami menyuruhnya maka dia menaatinya dan jika suami tidak ada disisinya maka dia menjaganya “(HR.Abu Dawud)
Alangkah berbahagianya seorang suami bila mendapati istrinya termasuk seorang wanita shalihah karena ia adalah sebaik-baik perhiasan diatas muka bumi.Perhiasan yang tidak ternilai.Dan, juga betapa bahagianya sang istri bila mendapati suaminya yang ia cintai senang terhadap dirinya dan meredhainya karena dengan keridhaan suaminya itu maka apabila ia mati tidak ada balasan yang terbaik baginya melainkan surga Allah yang seluas langit dan bumi dimana ia bisa memasukinya dari pintu manapun yang ia kehendakinya. Coba ukhti simak hadits berikut dibawah ini :
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhu, dia bercerita, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :
“Wanita mana saja yang meninggal sedang suaminya meridhainya maka akan masuk surga” (HR.Ibnu Majah,Tirmidzi, dan Hakim, Dan Al-Hakim mengatakan bahwa isnad hadits ini shahih)
Sabda Beliau yang lainnya:
“Apabila seorang wanita telah menunaikan shalat lima waktu, dan berpuasa bulan Ramadhan, senantiasa mentaati suaminya, menjaga kemaluannya, niscaya akan dikatakan kepadanya,”masuklah kamu kedalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki”(HR.Imam Ahmad dan Nasa’i. Semua perawi hadits ini tsiqah)
Karena itu tidak boleh hilang dari benak kita bahwa memahami ajaran agama yang lurus ini dengan kesadaran dan ketaatan kepada suami merupakan bagian yang dapat memasukkan seorang wanita muslimah ke dalam surga.
Akan tetapi kita dapati kenyataan dewasa ini sedikit sekali seorang istri yang taat kepada suaminya dan mensyukuri pemberian suami kepada dirinya (kecuali yang dirahmati Allah). Selalu saja merasa kurang dan tidak cukup.Sehingga suami yang sudah lelah bekerja seharian jarang disambut dengan senyuman mesra karena kecilnya penghasilan sang suami.Dia tidak sadar telah menjerumuskan dirinya dalam bahaya besar yaitu bahwa Allah tidak sudi memandang dirinya akibat dari ketidak peduliannya terhadap rasa syukurnya atas apa yang diberikan suami kepadanya baik nafkah ataupun yang lainnya.Hal ini sebagaimana yang Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sabdakan:
“Allah tidak akan memandang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal ia butuh kepadanya”(HR.Al-Hakim dalam Mustadraknya, beliau mengatakan isnad hadits ini adalah shahih)
Hendaklah seorang istri mengingat hadits diatas dengan baik dalam pikirannya agar ketika ia lupa mengucapkan syukur (terima kasih) kepada suaminya segera beristighfar kepada Allah Ta’ala dan segera mengucapkan ucapan syukur kepada suaminya untuk menghindarkan dirinya dari kemurkaan Allah. Yang demikian itu karena wanita muslimah yang telah dibekali dengan ilmu agama sadar dan selalu menepati janji dan tidak mengenal kufur terhadap nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya karena dia mendapatkan petunjuk dari agamanya yang menyelamatkan dirinya dari kebobrokan moral akhlak wanita-wanita kafir yang tidak pernah mengakui kebaikan-kebaikan yang suami mereka berikan.Ironisnya wanita-wanita muslimah dewasa ini diantara mereka ada yang berperilaku demikian. Mungkin hadits dibawah ini patut untuk dicamkan, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:
“Pernah diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata kebanyakan dari penghuninya adalah wanita yang suka berbuat kufur. Ditanyakan kepada beliau,”Apakah mereka berbuat kufur terhadap Allah? Beliau menjawab,”Mereka berbuat kufur terhadap keluarga dan kufur terhadap kebaikan.Apabila engkau senantiasa berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka lalu mendapatkan perlakuan buruk darimu, niscaya akan mengatakan,”Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”(Hadits Muttafaq Alaih)
Sedangkan dari Asma binti Yazid radhiyallahu anha dia menceritakan:
“Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah berjalan melalui kami sedang kami semuanya adalah wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami dan berkata:’Jauhilah oleh kalian kufur terhadap orang yang berbuat kebaikan’ Lalu kami bertanya “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan kufur terhadap orang-orang yang berbuat kebaikan itu?” Maka beliau menjawab:”Mungkin salah seorang diantara kalian ada yang lama hidup menjanda bersama orangtuanya, lalu Allah Azza wa Jalla memberikannya seorang suami, darinya dia memberikan harta dan keturunan.Kemudian suatu saat dia marah dan mengatakan, “Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali darinya meskipun hanya satu hari”(HR.Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, hadits shahih)
Hadits-hadits diatas menegaskan tentang kufurnya seorang wanita terhadap kebaikan yang terkandung didalamnya kufur terhadap kenikmatan sekaligus penghinaan terhadap nafkah yang diberikan suami. Nabi Shalallahu alaihi wassalam telah menerangkan dengan jelas dan baik supaya salah seorang dari wanita-wanita itu tidak ada alasan dihadapan Allah Ta’ala pada saat Dia menanyakan tentang muamalahnya dengan sang suami, “Apakah engkau berbuat baik kepadanya ataukah engkau mengkufuri nikmatnya dan meremehkan pemberian nafkahnya?(1)
Jelaslah sudah bagaimana seorang istri bisa menjadi kufur dihadapan Allah. Hendaklah dari sekarang kita menyadari dan meninggalkan perbuatan tersebut karena hal itu merupakan penyebab disiksanya wanita dineraka pada hari kiamat kelak.
Semoga Allah senantiasa menjaga istri-istri muslimah sehingga
rumah-rumah mereka dipenuhi dengan cahaya keimanan dan menjadikan mereka
termasuk dalam golongan orang-orang yang bersyukur. Amin, karena sesungguhnya sedikit sekali golongan yang bersyukur itu sebagaimana firman-Nya:
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”(Saba:13)
Wanita itu pada fitrahnya yang khas memiliki keistimewaan sebagai berikut:
1.Doa wanita lebih makbul daripada lelaki krn sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki.
Ketika ditanya kepada Rasulullah S.A.W. akan hal tersebut, jawab baginda :
“Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
2.Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.
3.Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takutkan Allah S.W.T.
akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
4.Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak
perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S
5.Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) didalam syurga
6.Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.
7.Daripada Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka
8.Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
9.Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
10.Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisap
11.Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).
12.Aisyah r.a. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W., siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ? Jawab baginda, “Suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap lelaki ?” Jawab Rasulullah S.A.W. “Ibunya.”
13.Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dia kehendaki.
14.Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
15.Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
16.Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.
17.Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
18.Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
19.Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas
untuk membela agama Allah S.W.T.
20.Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.
21.Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk dari pada 1,000 lelaki yang jahat.
22.2 rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.
23.Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (ASI)akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap tetes susu yang diberikannya.
Tidak banyaklah syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah Subhanahuwata’ala Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami Berikut ini antara lain perincian dari dua syarat di atas: 1. Taat kepada Allah dan RasulNya Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapak
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga
Segala
puji bagi Allah yang menjadikan Ramadhan
sebagai penghulu bulan-bulan dan melipatgandakan pahala kebaikan di dalamnya.
Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah
diturunkan Al-Qur’an kepadanya sebagai petunjuk, rahmat, nasehat, dan penyembuh
bagi manusia.
Alangkah
bahagianya kaum muslimin dengan kedatangan bulan Ramadhan, bulan yang penuh
keberkahan, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang, bulan doa,
bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka. Bulan yang
ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum muslimin. Bulan yang sebelum
kedatangannya Rasulullah Saw. berdoa kepada Allah: “Ya Allah berkahilah kami
pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” Bulan
dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar
mereka disampaikan ke bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, Mualla
bin al-Fadhl berkata: “Mereka (salaf) selama enam bulan berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke
bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan
Ramadhan diterima.” Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada
Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan? Mari kita dengarkan sabda Rasulullah
Saw. ketika beliau memberi kabar para sahabatnya dengan kedatangan bulan
Ramadhan: "Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh setan
dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada
satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun
pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: "Wahai
orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan
menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka".
(H.R.Tirmidzi).Rasulullah Saw. juga bersabda: “Telah datang kepada
kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya
puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan
membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik
dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia
sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki). Imam
Ibnu Rajab al-Hanbali mengomentari hadits ini dengan perkataannya: “Hadits ini merupakan
dasar dan dalil memberi ucapan selamat yang dilakukan kaum muslimin kepada
muslimin lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan, bagaimana seorang mukmin
tidak bergembira dengan dibukanya pintu sorga? Bagaimana seorang mukmin tidak
bergembira dengan ditutupnya pintu neraka? Bagaimana orang yang berakal tidak
bergembira dengan masa dimana setan-setan dibelenggu?” Hendaklah kita juga
mencontoh para salaf dengan senantiasa berdoa kepada Allah agar disampaikan ke
bulan Ramadhan yang penuh dengan berbagai macam keberkahan dan keutamaan
tersebut.
Ramadhan adalah
tamu istimewa. Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai tuan rumah untuk
menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya. Jika ada seorang
presiden atau petinggi negara akan berkunjung ke rumah kita pasti kita akan
direpotkan dengan berbagai persiapan untuk menyambutnya. Kita pasti akan menata
dan memperindah rumah kita, menyiapkan makanan istimewa dan lain-lain. Ramadhan
lebih dari sekedar presiden atau pejabat tinggi lain atau apa pun saja.
Ramadhan adalah anugerah Allah yang luar biasa. Ramadhan adalah kesempatan
untuk menyiapkan masa depan kita di dunia dan akhirat; oleh karenanya kita
mesti mempersiapkan kehadirannya dengan persiapan yang paripurna agar kita bisa
sukses meraih gelar takwa dan mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari
api neraka. Apa saja perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan tamu
tersebut?
1)Niat yang sungguh-sungguh
Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi
ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan
dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi
sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan
kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif
pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, ssekedar
ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah
tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.
Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan
selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan
memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan
terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu
Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan
untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini.
Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman
dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”
2)Bertaubat dengan sungguh-sunguh.
“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa
adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan
Ahmad dan Ibnu Majah.
Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang
kehadiran momen-momen kebaikan. Ada
momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah
salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang
hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan
dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan,
dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk
mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan
mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat
layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan,
dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu
dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini
lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana
rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang
melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang
malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi
Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat!
Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat.
Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya.
Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan
maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk
tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya
berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang
tersebut.
3)Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah
Ramadhan lain.
“Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu
Majah). Ilmu yang Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang
berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap
muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang
dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. Seorang yang ingin
melakukan shalat wajib mengetahui syarat-syarat atau rukun-rukun atau hal-hal
yang membatalkan shalat dan lain-lainya, agar shalatnya sesuai dengan tuntutan
agama. Begitu juga bulan Ramadhan di bulan ini Allah mewajibkan kepada setiap
muslim yang mampu untuk berpuasa. Maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim
untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat dan
rukun-rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan
dibolehkan dalam puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain supaya
puasa yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak
sia-sia. Di samping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa,
pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti
anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan,
dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.
4)Persiapan fisik dan jasmani.
Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh
selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan
yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih
dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca
Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini
menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan
dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan
adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri
menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya
bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang
diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama
sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau
berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)
Inilah diantara
hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan kesabaran ini.
Amalan-amalan sunah
pada bulan Ramadhan:
Selain puasa yang
Allah wajibkan pada bulan Ramadhan ada berbagai amalan yang disunahkan pada
bulan ini di antaranya:
Mengkhatamkan Al-Qur’an
Bulan
Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun
dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:
Bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)
Ibnu
Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling
dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril
menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan
al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang
berhembus."
Hadist
tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan
berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar
al-Qur'an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih
hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.
Dalam
hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi
pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan
keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan
merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.
Shalat tarawih
Rasulullah
Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena
iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah
lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian
orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain
mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru
yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah
perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada
riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang
13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau
bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir
masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”
Memperbanyak doa
Orang
yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh
karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika
berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan
saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.
Memberi buka puasa (tafthir shaim)
Hendaknya
berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa
walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah
yang berbunyi:" Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka)
orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa
dikurangi sedikitpun". (Bukhari Muslim)
Bersedekah
Rasulullah
Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan”
(HR. Tirmizi).
Ibnu
Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling
dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril
menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan
al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang
berhembus."
Dan
pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan
zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.
I’tikaf
I’tikaf
adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan
bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama
pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan
hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca
Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.
Umroh
Ramadhan
adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan
memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau
bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”
Memperbanyak berbuat kebaikan
Bulan
Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’
pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan
Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti
amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah
setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’
tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat
kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.
“dan untuk yang demikian itu hendaknya orang
berlomba-lomba.”
Semoga kita
termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan momentum Ramadhan untuk merealisasikan
ketakwaan diri kita dan bisa meraih predikat “bebas dari neraka.” Amin