6.3.11

Wanita Penghuni Surga dan ciri-cirinya

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.
 Kenikmatan-kenikmatan di Al-Jannah (Surga) 

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanallahu wa Ta’ala Shalallahu ‘alaihi wa Sallam rahimahullah berfirman:

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad: 15)

“ Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Merekalah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan piala berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah: 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala:

” Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah: 22-23)

Juga firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (yang artinya):

“ Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman: 56)

Juga firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (yang artinya):

“ Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman: 58)

Dan firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (yang artinya):

“ Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah: 35-37)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau:

…seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“ Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan berdendang bagi suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka: ”Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan: ”Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1561)

Ciri-Ciri Wanita Ahli Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?
Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.
Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah:

1. Bertakwa.
2. Beriman kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah Subhanallahu wa Ta’ala, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala seakan-akan melihat Allah Subhanallahu wa Ta’ala, jika dia tidak dapat melihat Allah Subhanallahu wa Ta’ala, dia meyakini bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala melihat dirinya.
5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala, tawakkal kepada-Nya, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah Subhanallahu wa Ta’ala, mengharap rahmat Allah Subhanallahu wa Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah Subhanallahu wa Ta’ala serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
6. Taat kepada suami (dalam hal ma’ruf/kebaikan)
7. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah Subhanallahu wa Ta’ala ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala semata.
8. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
9. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
10. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, suka berderma, menjaga diri dari meminta-minta, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
11. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
12. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk
13. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
14. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
15. Berbakti kepada kedua orang tua.
16. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.
17. Menutup aurat dan menjaga kehormatan dirinya.
18. Menundukkan pandangan
19. Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islami.
Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

… dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’: 13).

Wallahu A’lam Bis Shawab.
(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Azhari Asri dan Redaksi artikel Darus Sunnah, berjudul Wanita Ahli Surga dan Ciri-cirinya. MUSLIMAH XVII/1418/1997/Kajian Kali Ini, dengan beberapa tambahan)

16.2.11

Hafsah binti Umar bin Khathab

Beliau adalah Hafsah putri dari Umar bin Khathab, seorang shahabat agung yang melalui perantara beliau-lah Islam memiliki wibawa. Hafshah adalah seorang wanita yang masih muda dan berparas cantik, bertaqwa dan wanita yang disegani.

Pada mulanya beliau dinikahi salah seorang shahabat yang mulia bernama Khunais bin Khudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy yang pernah berhijrah dua kali, ikut dalam perang Badar dan perang Uhud namun setelah itu beliau wafat di negeri hijrah karena sakit yang beliau alami waktu perang Uhud. Beliau meninggalkan seorang janda yang masih muda dan bertaqwa yakni Hafshah yang ketika itu masih berumur 18 tahun.

Umar benar-benar merasakan gelisah dengan adanya keadaan putrinya yang menjanda dalam keadaan masih muda dan beliau masih merasakan kesedihan dengan wafatnya menantunya yang dia adalah seorang muhajir dan mujahid. Beliau mulai merasakan kesedihan setiap kali masuk rumah melihat putrinya dalam keadaan berduka. Setelah berfikir panjang maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya sehingga dia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala dia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali.
Akhirnya pilihan Umar jatuh pada Abu Bakar Ash Shidiq radhiallaahu ‘anhu orang yang paling dicintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena Abu Bakar dengan sifat tenggang rasa dan kelembutannya dapat diharapkan membimbing Hafshah yang mewarisi watak bapaknya yakni bersemangat tinggi dan berwatak tegas. Maka segeralah Umar menemui Abu Bakar dan menceritakan perihal Hafshah berserta ujian yang menimpa dirinya yakni berstatus janda. Sedangkan ash-Shiddiq memperhatikan dengan rasa iba dan belas kasihan. Kemudian barulah Umar menawari Abu Bakar agar mau memperistri putrinya. Dalam hatinya dia tidak ragu bahwa Abu Bakar mau menerima seorang yang masih muda dan bertaqwa, putri dari seorang laki-laki yang dijadikan oleh Allah penyebab untuk menguatkan Islam. Namun ternyata Abu Bakar tidak menjawab apa-apa. Maka berpalinglah Umar dengan membawa kekecewaan hatinya yang hampir-hampir dia tidak percaya (dengan sikap Abu Bakar). Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju rumah Utsman bin Affan yang mana ketika itu istri beliau yang bernama Ruqqayah binti Rasulullah telah wafat karena sakit yang dideritanya.

Umar menceritakan perihal putrinya kepada Utsman dan menawari agar mau menikahi putrinya, namun beliau menjawab: “Aku belum ingin menikah saat ini”. Semakin bertambahlah kesedihan Umar atas penolakan Utsman tersebut setelah ditolak oleh Abu Bakar. Dan beliau merasa malu untuk bertemu dengan salah seorang dari kedua shahabatnya tersebut padahal mereka berdua adalah kawan karibnya dan teman kepercayaannya yang faham betul tentang kedudukannya. Kemudian beliau menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan keadaan dan sikap Abu Bakar maupun Utsman. Maka tersenyumlah Rasulllah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata:

“ Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman sedangkan Ustman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshah (yaitu putri beliau Ummu Kultsum radhiallaahu ‘anha-red)”

Wajah Umar bin Khathab berseri-seri karena kemuliaan yang agung ini yang mana belum pernah terlintas dalam angan-angannya. Hilanglah segala kesusahan hatinya, maka dengan segera dia menyampaikan kabar gembira tersebut kepada setiap orang yang dicintainya sedangkan Abu Bakar adalah orang yang pertama kali beliau temui. Maka tatkala Abu Bakar melihat Umar dalam keadaan gembira dan suka cita maka beliau mengucapkan selamat kepada Umar dan meminta maaf kepada Umar sambil berkata “janganlah engkau marah kepadaku wahai Umar karena aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebut-nyebut Hafshah. Hanya saja aku tidak ingin membuka rahasia Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam; seandainya beliau menolak Hafshah maka pastilah aku akan menikahinya. Maka Madinah mendapat barokah dengan indahnya pernikahan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan Hafshah binti Umar pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriyah. Begitu pula barokah dari pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum binti Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Jumadil Akhir tahun ketiga Hijriyah juga.
Begitulah, Hafshah bergabung dengan istri-istri Rasulullah dan Ummahatul mukminin yang suci. Di dalam rumah tangga Nubuwwah ada istri selain beliau yakni Saudah dan Aisyah. Maka tatkala ada kecemburuan beliau mendekati Aisyah karena dia lebih pantas dan lebih layak untuk cemburu. Beliau senantiasa mendekati dan mengalah dengan Aisyah mengikuti pesan bapaknya (Umar) yang berkata: 

“ Betapa kerdilnya engkau bila dibanding dengan Aisyah dan betapa kerdilnya ayahmu ini apabila dibandingkan dengan ayahnya”.
Hafshah dan Aisyah pernah menyusahkan Nabi, maka turunlah ayat :

" Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong untuk menerima kebaikan dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi,maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril” (Q.S. at-Tahrim: 4).

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mentalak sekali untuk Hafshah tatkala Hafshah dianggap menyusahkan Nabi namun beliau rujuk kembali dengan perintah yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam yang mana dia berkata:
“Dia adalah seorang wanita yang rajin shaum, rajin shalat dan dia adalah istrimu di surga”.
Hafshah pernah merasa bersalah karena menyebabkan kesusahan dan penderitaan Nabi dengan menyebarkan rahasianya namun akhirnya menjadi tenang setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memaafkan beliau. Kemudian Hafshah hidup bersama Nabi dengan hubungan yang harmonis sebagai seorang istri bersama suaminya. Manakala Rasul yang mulia menghadap ar-Rafiiq al-A’la dan Khalifah dipegang oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, maka Hafshah- lah yang dipercaya diantara Ummahatul Mukminin termasuk Aisyah didalamnya, untuk menjaga mushaf Al-Qur’an yang pertama.
Hafshah radhiallaahu ‘anha mengisi hidupnya sebagai seorang ahli ibadah dan ta’at kepada Allah, rajin shaum dan juga shalat, satu-satunya orang yang dipercaya untuk menjaga keamanan dari undang-undang umat ini, dan kitabnya yang paling utama yang sebagai mukjizat yang kekal, sumber hukum yang lurus dan ‘aqidahnya yang utuh.
Ketika ayah beliau yang ketika itu adalah Amirul mukminin merasakan dekatnya ajal setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah seorang Majusi pada bulan Dzulhijjah tahun 13 hijriyah, maka Hafshah adalah putri beliau yang mendapat wasiat yang beliau tinggalkan.
Hafshah wafat pada masa Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiallaahu ‘anhu setelah memberikan wasiat kepada saudaranya yang bernama Abdullah dengan wasiat yang diwasiatkan oleh ayahnya radhiallaahu ‘anhu. Semoga Allah meridhai beliau karena beliau telah menjaga al-Qur’an al- Karim, dan beliau adalah wanita yang disebut Jibril sebagai Shawwamah dan Qawwamah (Wanita yang rajin shaum dan shalat) dan bahwa beliau adalah istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di surga.

14.2.11

Pesan Pendidikan Lukmanul Hakim

“ Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya : “Hai anakku, janganlah kamu mensekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (Surat AL - Luqman : Ayat 13)

Bulan Mei bagi bangsa Indonesia diangap sebagai bulan pendidikan. Sebab pada bulan tersebut terdapat satu hari yang diangkat sebagai hari pendidikan nasional. Dalam bulan pendidikan ini ada baiknya kita melakukan introspeksi terhadap perjalanan pendidikan kita, tentu dari kaca mata Islam.

Lebih dari setengah abad bangsa kita merdeka, dan menyelenggarakan pendidikan dalam rangka meraih salah satu tujuan kemerdekaan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi jika kini kita melihat sekilas hasil dari proses pendidikan kita agaknya masih dominan pada aspek kognitif, yaitu mencerdaskan otak. Kita lihat pada berita dari berbagai media, orang-orang pinter dengan titel yang berderet-deret panjang ternyata punya potensi menjadi koruptor. Sementara kaum yang berpendidikan rendah masih berkutat pada khidupan klenik atau mistik. Sedangkan para pelajar dan pemuda tak jarang terlibat tindak kekacauan, semacam tawuran, atau tindak asusila.
Memang itu bukanlah profil lengkap dari pendidikan kita, namun fenomena tersebut cukup banyak kita jumpai. Tak bisa dipungkiri, prestasi-prestasi mengangumkan sesungguhnya juga sudah muncul, tetapi jika dibandingkan dengan negeri tetangga, ternyata kualitas pendidikan kita masih kalah, padahal kita lebih dahulu merdeka. Apanya yang salah?

Jika menelisik lebih dalam kepada kurikulum nasional, memang persoalan nilai dan akhlak tidak menjadi tumpuan utama pendidikan kita. Padahal pendidikan itu sesungguhnya bukan semata-mata transfer pengetahuan, tetapi pendidikan harusnya mentransfer nilai-nilai luhur. Endingnya adalah terbentuknya insane kamil, yaitu manusia yang memiliki jiwa utama.

Dalam khazanah Islam dikenal ada seorang tokoh yang istimewa dalam pendidikan. Memang bukan metode mendidik yang dikemukakan, tetapi wasiat-wasiatnya sangat penting untuk diterapkan dalam dunia pendidikan. Dialah Luqman al-Hakim. Luqmanul Hakim merupakan salah satu suri tauladan diantara para bapak yang sangat memperhatikan pendidikan anak. Baik pendidikan ruhiyah maupun jismiyah, mental maupun badan. Bahkan namanya menjadi salah satu nama surat di dalam al-Qur’an.

Pokok-pokok pikiran pendidikan Luqmanul Hakim tertuang pada pesan beliau kepada anaknya, yang meliputi pesan yang berkenaan antara hubungan hamba dengan Robnya, antara hamba dengan sesama.
Berikut ini adalah pesan-pesan pendidikan Luqman kepada anaknya:
1. Tidak mensekutukan Allah
Pesan ini beliau katakan seperti dalam firman Allah : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya : 
“ Hai anakku, janganlah kamu mensekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (Luqman:13).
Tanggung jawab pendidikan terhadap anak didiknya dalam Islam meliputi tanggung jawab untuk menyelamatkan hidupnya kelak di akhirat. Karena itulah pendidikan tauhid menempati kedudukan yang utama. Dengan prinsip tauhid inilah sang anak akan bisa beramal hanya untuk Allah, tanpa dicampuri dengan tujuan yang lain.
Orang yang memiliki jiwa tauhid kuat, ia tidak akan mudah diiming-imingi untuk melakukan penyimpangan hanya edngan sejumlah harta dunia. Dia tahu bahwa Allah lebih kaya dari orang yang ada di dunia ini. Dia tahu melakukan kecurangan akan menimbulkan murka Allah, sehingga ia pun akan berpantang untuk melakukan kecurangan. Apalagi jika kecurangan itu sampai mendhalimi orang lain.

2. Berbuat baik kepada kedua orang tua

Luqmanul Hakim mengajarkan kepada anak untuk berbuat baik kepada orang tua sejak sedini mungkin, karena orang tua adalah yang menyebabkan mereka ada di dunia ini.
Pesan ini Allah abadikan dalam firman-Nya :

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”. (
Surat Al - Luqman : Ayat 14).
Tetapi jika kita melihat kehidupan medern sekarang, banyak anak yang tidak mengerti sopan dan santun kepada orang tuanya, bahkan tidak sedikit yang mendurhakainya. Berani kepadanya dan melawan keduanya. Bahkan tidak sedikit anak yang memperbudak orang tuanya.

Mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah berjasa adalah suatu sikap siopan. Dan sikap ini disepakati oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Apalagi kepada orang tua, yang oleh Allah telah dijadikan wasilah lahirnya seorang anak, lalu mengasuhnya, membesarkannya dengan kasih saying. Tetapi jika tidak dididik untuk bias hormat kepada orang tua, anak ini tidak akan bias berbuat baik kepada orang tuanya. Sebab itulah pendidikan harus menekankan kewajiban ini bagi anak. 

3. Menanamkan cinta pada amal shalih pada diri anak.

Menanamkan kebiasaan beramal shalih pada diri anak harus dilakukan sejak dini. Harus ditanamkan bahwa amal baik, sebesar apapun pasti akan dibalas oleh Allah, dan sebaliknya amal keburukan sebesar apapun pasti akan dibalas oleh Allah. Firman Allah;

“ (Luqman berkata ) : “ Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui”. (
Surat Al - Luqman : Ayat 16).

Ketika anak mengerti bahwa Allah akan membalas semua jerih payahnya, maka ia akan selalu berusaha untuk beramal yang baik. Ia akan senantiasa meningkatkan amalnya dan selalu taat kepada perintah-Nya serta selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.

4. Mengenalkan kepada anak untuk menunaikan kewajiban kepada Allah.

“ Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan besabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. ( Surat Al - Luqman : Ayat 17).
 
Kewajiban kepada Allah sangat banyak, ada yang berupa sikap, dan ada yang berupa perbuatan. Sholat, puasa, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, sabar, tawakkal dan lain-lain adalah beberapa contoh kewajiban kepada Allah. Luqman hanya menyebutkan beberapa kewajiban sebagaimana difirmankan oleh Allah.
Ketika anak mengerti dan faham akan kewajiban yang harus ia tunaikan, maka dengan sendirinya ia akan melakukan amalan tersebut dengan baik dan dengan lapang hati. 

5. Mengajarkan sikap tawadlu’.

Akhlak adalah penghias diri seseorang. Bahkan Rasulullah diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan akhlak inilah seseorang akan dihormati dan dihargai, semerntara ia akan dihina dan dilecehkan kerena kesombongan dan akhlaknya yang tercela. Luqmanul Hakim kepada anaknya memesankan agar ia tidak sombong. Sikap santun, tawadlu’ dan tidak sombong menjadi kunci penting tertanamnya akhlak yang mulis. firman Allah :
“Dan jangalah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesunguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (
Surat Al - Luqman : Ayat18-19).

Di dalam ayat-ayat tersebut, Allah mendahulukan penanaman nilai daripada pengetahuan. Dengan nilai itulah karakter anak akan muncul. Sementara tanpa pengajaran karakter, pengetahuan akan digunakan untuk memenuhi syahwatnya sendiri, tanpa mempedulikan orang lain. Lalu Bagaimanakah kita untuk mendidik anak-anak kita?

Pesan Luqmanul Hakim kepada Anaknya

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya : “Hai anakku.. janganlah kamu mempersekutukan ALLAH, sesungguhnya mempersekutukan ALLAH adalah benar-benar kedzaliman yang besar..” (QS. Luqman 13)

Wahai anakku.. Sesungguhnya laut ini dalam, banyak sudah manusia yang tenggelam, maka jadikanlah taqwa sebagai bahteramu, iman sebagai kemudinya, dan tawakkal sebagai layarnya.. Semoga kamu selamat..
Wahai anakku.. jangan cemarkan wajahmu dengan meminta-minta, jangan lampiaskan marahmu dengan keburukan yang mencoreng nama baikmu, dan ketahuilah batas kemampuanmu, niscaya hidupmu bermanfaat..
Wahai anakku.. orang yg merasa dirinya hina dan rendah diri dlm beribadah dan taat kepada Allah, maka dia itu orang yg thawadu.. lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha mengindari maksiat..
Wahai anakku.. seandainya ibu bapakmu marah kepadamu karena kesalahan yang kamu lakukan, maka marahnya ibu bapakmu itu adalah bagaikan pupuk untuk tanaman yang menyuburkan dan membawa kebaikan..
Wahai anakku ketahuilah.. memindahkan batu besar dari tempatnya itu lebih mudah daripada mengajar orang yang tidak mau menerima pelajaran..
Wahai anakku.. apabila engkau dihadapkan pada dua pilihan, antara menziarahi orang mati atau datang ke pesta pekawinan, maka pilihlah untuk menziarahi orang mati, karena ia akan mengingatkanmu pada akhirat, sedangkan datang ke tempat orang kawin hanya mengingatkanmu pada kesenangan duniawi..
Wahai anakku.. janganlah kamu telan saja karena manisnya suatu makanan dan jangan kamu muntahkan karena rasa pahit.. karena manis belum tentu menjadikan sehat dan pahit belum tentu mendatangkan kesengsaraan..
Wahai anakku.. bukan suatu kebaikan namanya bila kamu selalu mencari ilmu tapi kamu tidak pernah mengamalkanya.. karena ia sama seperti orang yang mencari kayu bakar, yang setelah banyak dia tak mampu memikulnya.. padahal dia masih mau menambahnya..
Wahai anakku.. bila kamu mau mencari kawan sejati, maka ujilah lebih dulu dengan pura-pura membuat dia marah. Dan bila pada saat dia marah itu, dia masih berusaha menginsafkanmu.. maka bolehlah engkau ambil dia sebagai kawan.. jika tidak demikian, maka berhati-hatilahlah..
Wahai anakku.. bila kamu berteman, tempatkanlah dirimu sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu darinya. Biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu..
Wahai anakku.. bergaulah dengan orang yang alim dan berilmu.. perhatikan kata-kata nasehatnya, karena sesungguhnya hati akan menjadi sejuk mendengar nasehatnya dan hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya, bagaikan tanah yg subur lalu disirami air hujan..
Wahai anakku.. ambillah harta dunia seperlunya saja.. dan nafkahkan selebihnya untuk bekalan akhiratmu.. jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang sampah semuanya, karena engkau nanti akan menjadi pengemis yang membebani orang lain. Sebaliknya.. janganlah engkau peluk dunia ini dan meneguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu hanyalah tanah belaka..
Wahai anakku.. aku mewasiatkan kepadamu tentang delapan perkara.. Jagalah hatimu dalam shalat, jagalah pandanganmu ketika berada di rumah orang, lidahmu dalam majelis, jagalah perutmu dari keserakahan. Juga ingat dua hal dan lupakan dua hal.. Ingatlah Allah dan kematian, serta lupakanlah kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan mereka kepadamu..

Subhanallah…

“Ya Allah karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menerima setiap ilmu dan petunjuk dari-Mu, yaa Rabb.. mudahkanlah hati kami mendapatkan hikmah dan hidayah yang datang dari orang-orang shalih sebelum kami.. dan golongkan kami kedaam hamba-hamba yang senantiasa memperbaiki diri..”
Amin ya Rabbal a’lamin

12.2.11

Buah Keikhlasan

Ikhlas adalah satu kata yang sangat mudah diucapkan oleh setiap orang, termasuk orang munafik dan kafir sekalipun. Tetapi sejatinya kata inilah yang paling berat dan paling sulit untuk direalisasikan. Terkadang para dai mampu menjaga keikhlasan di awal perjalanan, tetapi di tengah jalan berbagai macam ujian dan cobaan menghadangnya sehingga dia menjadi kendur, luntur dan jatuh kecebur sumur riya’ dan ujub. Na’udzubillahi min dzaalik.
Akumulasi dari hati yang bersih dan akhlak yang terpuji menyatu pada keikhlasan. Sementara, tanpa keikhlasan tidak ada lagi hati dan akhlak. Hati kosong dan gersang menjadi sarang penyakit. Mulut berbusa mengeluarkan kata-kata tanpa makna. Anggota badan bekerja bagai robot kasar tanpa rasa dan hati. Sampai-sampai orang yang sekaliber Umar bin Abdul ‘Aziz r.a. pun sangat takut akan penyakit riya’. Ketika ia berceramah kemudian muncul rasa takut dan penyakit ujub, segera ia memotong ucapannya. Dan ketika menulis karya tulis dan takut ujub, maka segera merobeknya. Lalu bagaimana mungkin seorang yang disebut dai berceramah berlama-lama sementara panggilan adzan tidak dihiraukan dengan alasan yang sepele: Tanggung! Ingat, “Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya (syahwat), maka mereka kelak akan tersesat.” (Maryam: 59)
Keikhlasan merupakan mutiara teramat mahal yang harus dimiliki setiap mukmin dan para dai. Mutiara yang harus senantiasa dibersihkan dari berbagai macam kotoran dan debu. Apalagi bagi qiyadah dakwah. Jundiyah muthi’ah (ketentaraan yang taat) dan qiyadah mukhlishoh(kepemimpinan yang ikhlas) itulah kedua pilar utama gerakan Islam. Keduanya harus berjalan secara padu dan harmonis untuk meraih kesuksesan harakah dakwah di medan kehidupan.
Keikhlasan membuat beban menjadi ringan, kesusahan menjadi hiburan, musibah menjadi pembersih hati, penjara menjadi pesantren, pengusiran menjadi rihlah gerakan, harta menjadi jalan kontribusi yang signifikan, dan kekuasaan menjadi amanah perjuangan. Sungguh indah kata-kata mutiara Ibnu Taimiyah yang diungkapkan secara jujur, “Penahananku adalah perenungan, pengusiranku adalah tamasya, dan pembunuhanku adalah syahid.”
Buah Keikhlasan
Sesungguhnya pohon keikhlasan akan menghasilkan buah keikhlasan: manis, indah, dan menyenangkan. Karena berasal dari pohon yang baik, akarnya kuat dan kokoh sedangkan cabangnya menjulang ke langit, menghasilkan buahnya setiap saat (Lihat surat Ibrahim: 24-25)
1. Sampai pada hakekat Islam, yaitu penyerahan total pada Allah. Berkata Ibnul Qoyyim, “Meninggalkan syahwat karena Allah adalah jalan paling selamat dari adzab Allah dan paling sukses meraih rahmat Allah. Perbendaharaan Allah, perhiasan kebaikan, lezatnya ketenangan, dan rindu pada Allah, senang dan damai dengan Allah tidak akan diraih oleh hati yang di dalamnya ada sekutu selain Allah, walaupun dia ahli ibadah, zuhud, dan ilmu. Karena Allah menolak menjadikan perbendaharaannya bagi hati yang bersekutu dan cita-cita yang berserikat. Allah memberikan perbendaharaan itu pada hati yang melihat kefakiran, kekayaan bersama Allah; kekayaan, kefakiran tanpa Allah; kemuliaan, kelemahan tanpa Allah, kehinaan, kemuliaan bersama Allah, kenikmatan, adzab tanpa Allah dan adzab adalah kenikmatan bersama Allah.”
2. Selamat dari cinta harta, kedudukan, dan popularitas. Dari Ka’ab bin Malik r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar dikirim ke kambing lebih merusak melebihi ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi). Ka’ab bin Malik adalah seorang sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk karena bersantai-santai. Akibatnya dia mendapat hukuman yang berat, diboikot Rasulullah saw. dan para sahabat selama 50 hari. Tapi dia jujur dan mengatakan apa adanya pada Rasulullah saw., tidak seperti yang dilakukan oleh kaum munafik. Pada saat kondisi sulit dan dunia terasa sempit, muncul tawaran suaka politik dari Raja Ghasan. Ka’ab ikhlas menerima ujian itu dan menolak segala tawaran politik Raja Ghasan dengan segala kemewahan dan popularitasnya. Dan dia selamat, lebih dari itu peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an.
3. Bebas dari perbuatan buruk dan keji. Nabi Yusuf a.s. adalah salah satu contoh yang diselamatkan Allah swt. dari perbuatan keji dan mesum berkat keikhlasan beliau (lihat surat Yusuf: 24).
4. Ikhlas menjadikan amal dunia secara umum sebagai ibadah yang berpahala. Sesungguhnya banyak sekali amal umum yang jika kita niatkan karena Allah maka akan berpahala. Memberi makan, nafkah, dan menyalurkan hasrat seks pada istri, bersenda gurau dengan anak istri, berolah raga, rekreasi yang sehat, makan dan minum secara umum. Dari Abu Dzar r.a., sejumlah sahabat Rasulullah saw. berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah saw., para hartawan itu pergi dengan banyak pahala. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mengerjakan puasa sebagaimana kami puasa, dan bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki (sedang kami tidak mampu).” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah bagi kalian, setiap takbir (Allahu Akbar) sedekah bagi kalian, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah bagi kalian, setiap tahlil (laa ilaaha illallah) adalah sedekah bagi kalian. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar sedekah, dan bersetubuh adalah sedekah pula.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah di antara kami apabila menyalurkan syahwatnya (kepada istri) juga mendapat pahala?” Jawab beliau, “Tahukah kalian, jika dia menyalurkannya pada yang haram (berzina), bukankah baginya ada dosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal, maka baginya berpahala.” (HR Bukhari dan Muslim)
5. Keluar dari setiap kesempitan. Kisah tiga orang yang terjebak dalam gua bukanlah sekedar kisah pelipur lara atau kisah pengantar tidur yang tanpa makna. Tiga orang yang mempersembahkan amalan unggulannya: pertama, birrul walidain; kedua, wafa terhadap pegawainya; dan ketiga, pengendalian syahwat yang luar biasa. Keajaiban itu terjadi karena buah keikhlasan dan keajaiban itu dapat berulang setiap saat, jika syaratnya terpenuhi: ikhlas.
Ada banyak sekali daftar kesempitan pada umat Islam. Kesempitan kemiskinan, kekurangan pangan, lapangan kerja, fitnah teroris, korupsi, pejabat yang culas, perzinahan dan pemerkosaan, mafia peradilan, premanisme dan banyak lagi pernik-pernik kesempitan. Sehingga untuk keluar dari semua kesempitan itu, dibutuhkan bukan hanya tiga orang yang ikhlas, tetapi sepuluh, seratus, seribu, sejuta, sepuluh juta, seratus juta, dan bahkan lebih dari itu.
6. Kemenangan dari tipu daya syetan. Diriwayatkan dari Al-Hasan berkata, “Ada sebuah pohon yang disembah manusia selain Allah. Maka seseorang mendatangi pohon tersebut dan berkata, ‘Saya akan tebang pohon itu.’ Maka ia mendekati pohon tersebut untuk menebangnya sebagai bentuk marahnya karena Allah. Maka syetan menemuinya dalam bentuk manusia dan berkata, ‘Engkau mau apa?’ Orang itu berkata, ‘Saya hendak menebang pohon ini karena disembah selain Allah.’ Syetan berkata, ‘Jika engkau tidak menyembahnya, maka bukankah orang lain yang menyembahnya tidak membahayakanmu?’ Berkata lelaki itu, “Saya tetap akan menebangnya.’
Berkata syetan, ‘Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagimu? Engkau tidak menebangnya dan engkau akan mendapatkan dua dinar setiap hari. Jika engkau bangun pagi, engkau akan dapatkan di bawah bantalmu.’ Berkata si lelaki itu, ‘Mungkinkah itu terjadi?’ Berkata syetan, ‘Saya yang menjaminnya.’
Maka kembalilah lelaki itu, dan setiap pagi mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya. Pada suatu pagi ia tidak mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya, sehingga marah dan akan kembali menebang pohon. Syetan menghadangnya dalam wujud aslinya dan berkata, ‘Engkau mau apa?’
Berkata lelaki itu, ‘Saya akan menebang pohon ini karena disembah selain Allah.’ Berkata syetan, ‘Engkau berdusta, engkau akan melakukan ini karena diputus jalan rezekimu.’ Tetapi lelaki itu memaksa akan menebangnya, syetan memukulnya, mencekik dan hampir mati, kemudian berkata, ‘Tahukah kau siapa saya?’ Maka ia memberitahukan bahwa dirinya adalah syetan.
Syetan berkata, ‘Engkau datang pada saat pertama, marah karena Allah. Sehingga saya tidak mampu melawanmu. Oleh karena itu saya menipumu dengan dua dinar. Dan engkau tertipu dan meninggalkannya. Dan pada saat engkau tidak mendapatkan dua dinar, engkau datang dan marah karena dua dinar tersebut, sehingga saya mampu mengalahkanmu.’”
7. Meraih kecintaan Allah. Ketika orang beriman beribadah, baik ibadah yang wajib maupun sunnah, dan dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah, pasti mereka meraih kecintaan Allah. Merekalah kekasih-kekasih Allah. Disebutkan dalam hadits Al-Qudsyi, “Jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan yang sunnah, maka Aku mencintainya.” (HR Al-Bukhari)
8. Meraih kecintaan manusia. Ketika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka seluruh makhluk dapat digerakkan untuk mencintai hamba tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Jika Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintai Fulan. Kemudian Jibril memanggil penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan. Oleh karena itu cintailah Fulan.’ Maka penduduk langit mencintai Fulan. Kemudian ditetapkan baginya penerimaan di bumi.” (Muttafaqun ‘alaihi).
9. Meraih kemenangan di dunia dan pahala yang besar di akhirat (lihat surat Ash-Shaff: 10-13). Orang beriman tentulah orang yang ikhlas dan berhak mendapat kemenangan dunia dan pahala besar di akhirat kelak.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga keimanan kita, menjaga keikhlasan kita dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad. Amiin.

9.2.11

Khutbah Syaikh Utsaimin (Penjelasan Tentang Sebagian Nama dan Sifat Allah Ta’ala)

Segala puji hanyalah millik Allah, Dzat yang memiliki sifat yang sempurna lagi tinggi. Dialah yang memiliki nama yang maha agung lagi maha baik. Menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Dialah Ar-Rahman(Yang Maha pengasih) yang beristiwa diatas ‘Arsy.
Aku bersaksi tiada illah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam uluhiyyahrububiyyah dan dalam pengaturan alam semesta. Tidak ada cacat sedikitpun dalam sifat-sifat-Nya dan tidak ada yang tertolak dalam ketetapan-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau lah orang yang sangat tunduk kepada Rab-Nya, meminta tolong hanya kepada-Nya baik dalam perkara kecil maupun besar. Semoga shalawat Allah atasnya, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang mengenal kebenaran (agama ini) dengan dalil. Semoga Allah mencurahkan keselamatan baginya.
Amma ba’du,
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan ketahuilah bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah dalam seluruh sifat-sifatNya. Tidak ada yang satupun yang serupa dalam nama dan ketetapan-Nya.
Dialah Allah , Dzat dimana hati seorang hamba menyembah-Nya dengan kecintaan dan pengagungan.
Dialah Ar-Rahman Ar-Rahim, Dzat yang memiliki kasih sayang kepada hamba yang melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Tidak ada satupun nikmat yang engkau dapatkan dan engkau rasakan kecuali semuanya berasal dari rahmat-Nya. Tidak ada bahaya yang bisa engkau hindari kecuali semata-mata karena pengaruh rahmat-Nya pula.
Dialah Al-mulk, pemilik seluruh alam baik yang diatas maupun segala sesuatu yang ada dibawah bumi. Tidak ada satupun benda yang bergerak kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya. Dan tidak ada satupun benda yang diam kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya.
Dialah Al-Quddus , Dzat yang suci dan jauh dari kekurangan dan aib. Dialah Allah yang telah menciptakan langit dengan segala sesuatu yang menghiasinya termasuk berbagai bintang dan bermacam-macam planet. Dia menciptakan bumi dengan segala sesuatu yang ada didalamnya baik lelautan, pepohonan, gunung-gunung, berbagai kebaikan dan kehidupan yang cukup. Dan Allah mencitapkan semua itu dan segala sesuatu diantara langit dan bumi dalam enam hari sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Dan tidaklah Allah tertimpa rasa letih dan kecapekan.
Dialah Al-Qawiy Al-Qahhar (Yang Maha Kuat dan Maha Mengalahkan) Tidak ada satupun makhluk (yang tercipta) kecuali atas kehendak dan kekuasaan-Nya. Dan tidak ada satupun kerajaan kecuali tunduk dan hina dihadapan keagungan dan kekuasaan-Nya.
Dialah Al-’Alim, Dzat yang mengetahui semua rahasia dan segala sesuatu yang tersembunyi. Dialah Dzat yang mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan lautan, tidak ada satupun daun yang gugur kecuali atas pengetahuan-Nya. Begitu juga tidak ada satupun bijian yang tumbuh dikegelapan bumi, yang basah maupun yang kering kecuali semua telah tertulis di kitab-Nya yang jelas (lauhul mafhfudz). Dan Dialah Dzat yang mengetahui janin yang dikandung oleh seorang wanita dan yang dilahirkannya. Dialah Dzat yang mengetahui keragu-raguan dalam hati seorang hamba sebelum ia mengungkapkannya. Dzat yang Maha dekat dan menjadi saksi atas semua yang terjadi pada diri seorang hamba. Tidak ada satupun benda dilangit dan dibumi yang jauh dari (pegilmuan) Rabb mu baik yang besarnya sebiji zarrah ataupun yang lebih dari itu.
Dialah Al-’Aliyul A’la, Yang Maha Tinggi baik Dzat dan sifat-sifat-Nya. Tingginya dzat Allah karena Dia berada diatas ‘Arsy-Nya yang tinggi dan tingginya sifat Allah karena tidak ada satupun makhluk yang menyerupai-nya.
Dialah Al-Jabbar, Dzat yang Maha Perkasa, yang memberi kekuatan (bagi yang kalah) dan mencukupi yang lemah dan Dzat yang mampu menyiksa dengan kekuasaan dan ketinggian-Nya.
Dialah Al-Ghafur, Dzat yang mengampuni dosa-dosa meski telah menggunung dan Dzat yang menutupi aib-aib meski tak terhingga jumlahnya. Dalam hadits qudsi dari AllahTabaraka Wa Ta’ala berfirman,
Wahai anak adam, jika engkau berdoa dan berharap (hanya) kepada-Ku maka akan Ku ampuni semua dosa-dosamu yang telah lalu dan Aku tidak peduli. Wahai anak adam, kalau senadainya engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa dan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa denganKu dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun (mati diatas tauhid) maka Aku akan memberi ampunan sebesar itu pula.
Dialah Al-Khalaq Al-Qadir, Dzat yang menahan langit dan bumi dengan kekuatan-Nya agar tetap kokoh. Dan dialah dzat yang menahan langit agar tidak jatuh kebumi. Semua itu terjadi karena atas ijin-Nya.
Dialah Al-Hakim, (Yang Maha Bijaksana) baik dalam hukum dan ketetapan-Nya. Tidaklah Dia menciptakan segala seuatu dengan kesia-siaan dan tidaklah Allah mensyariatkan (suatu hukum) kepada hamba-Nya dengan bermain-main dan senda gurau, disamping itu, segala hukum hanya milik-Nya dari awal hingga akhir. Demikian itu, karena hukum itu hanya milik-Nya dari awal hingga akhir.
Dialah Al-Ghaniy, Dzat Yang Maha kaya yang tidak butuh kepada seluruh makhluk-Nya.
Dialah Al-Karim, Dzat Yang Maha Pemurah dengan limpahan pemberian dan anugrah-Nya. Dan tangan-Nya tidak pernah mengurangi jatah pemberian (kepada makhluk-Nya) siang dan malam.
Tidakkah engkau lihat apa yang Allah berikan sejak penciptaan langit dan bumi maka tidak ada yang berkurang sedikitpun apa yang ada di sisi kanan-Nya. Dimana ada pembatas cahaya, kalau seandainya saja Allah menyingkap cahaya tersebut sungguh kesucian wajah-Nya maka akan membakar setiap makhluk sejauh pandangan matanya.
akan menyengat karena inilah tujuan akhir penglihatan hamba (yaitu melihat wajah Allah kelak).
Dalam sebuah hadits Allah Ta’ala berfirman,
Wahai hambaKu kalau seandainya saja engkau semua berkumpul dari yang pertama sampai yang terakhir baik dari golongan manusia dan jin semuanya berdiri di satu tempat kemudian meminta dan memohon kepadaKu dan kemudian Aku kabulkan dari setiap permintaan maka itu semua tidaklah mengurangi sedikitpun apa yang ada disisiKu kecuali hanya seperti berkurangnya air ketika pena dicelupkan kedalam lautan.
Dalam riwayat lain,
Demikian itu dikarenakan Aku adalah Dzat Yang Maha Baik lagi Maha Kaya dan Maha Mulia. Aku berbuat sesuai dengan apa yang Aku kehendaki. pemberianKu adalah kalam dan adzabKu adalah kalam. Segala seuatu jika saja Aku kehendaki (kebneradaaanya) maka cukuplah Aku katakan, ‘Kun fayakun’(jadilah! Maka terjadi).”
Wahai saudara-sadauraku…
Ini adalah penjelasan yang mudah (dipahami) tentang nama dan sifat Allah Ta’ala. Dan setiap nama Allah Ta’ala memiliki makna (yang bisa dipahami). Sesungguhnya nama-nama Allah Ta’ala tidak terbatas dengan jumlah tertentu dan diantara nama Allah ada 99 nama, barangsiapa yang menghafalnya akan masuk surga. Yang dimaksud ihsha’ (menghafal) disni adalah mengenal nama-nama Allah secara lafadz, makna dan beribadah kepada Allah dengan nama-nama tersebut.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
Aku  berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk
وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“ Dan hanya milik Allah nama-nama yang terbaik (asmaul husna) maka berdoalah dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-namaNya. Mereka kelak akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم
Semoga Allah memberkahiku dan engkau sekalian dalam Al-Qur’an Yang Agung.
Maraji’: Majmu’ Fatawa Wa Rasail Ibni Utsaimin-6, Maktabah Asy-Syamilah.
Murojaah: Ust. Ammi Nur Baits

Membaca Kalamullah Dengan Benar Nan Indah


1. Menurut bahasa
Menurut bahasa, kata “tajwid” diambil dari “sesuatu yang baik”, lawannya adalah “jelek”. Diambil dari kata جَوَّدَ – يُجَوِّدُ – تَجْوِيْدًا yang artinya adalah perbaikan, penyempurnaan, pemantapan. (Qowaid Attajwid hlm. 24). Serta, dikatakan bagi orang yang baik dalam bacaan Al-Quran dengan mujawwid.
2. Menurut istilah
Menurut istilah, tajwid adalah keluarnya semua huruf hijaiyah dari makhraj-nya (tempat keluarnya) dengan memberikan hak dan keharusannya dari sifat tersebut.

  1. Adapun hak dari sifat itu adalah sifat permanen yang tidak berubah dalam semua keadaannya, seperti: sifat jahr, syiddah, istifal, ithbaq, qolqolah, dan sebagainya.
  2. Sedangkan keharusan dari sifat-sifatnya tersebut adalah sifat yang bisa berubah, seperti: idzhar, idgham, iqlab, ikhfa`, tarqiq, tafkhim.
3. Peletak dasar ilmu tajwid
Ditinjau dari sisi amalan, praktik bacaan Al-Quran adalah wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla yang disampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Jibril ‘alaihis salam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada para sahabat, lalu para sahabat menyampaikan kepada tabi’in, dan begitu seterusnya, sampai ilmu itu kepada kita. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang diperbolehkan berijtihad dalam hal bacaan Al-Quran tersebut. (Lihat Hidayah Al-Qori, hlm. 38)
Kemudian, terjadi perselisihan siapa yang mulai meletakkan kaidah dan ushul ilmu tajwid. Sebagian mengatakan Abu ‘Amr Hafs bin ‘Umar Ad-Dury, Abu ‘Ubaid Al-Qasim Ibnu Sallam, Abul Aswad Ad-Dualy, Al-Kholil ibn Ahmad, dan sebagian mengatakan yang lainnya. 
Kemudian, kaidah itu bukanlah suatu bid’ah yang tercela dalam agama Islam bahkan merupakan suatu maslahat mursalah (Lihat al-I’tisham 2/111—112). Demikian pula ilmu nahwu, ilmu mushtholah, ilmu ushul fikih, dan sebagainya, yang semua itu tidak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Adapun sebab yang mendorong ulama untuk meletakkan kaidah serta ushul tersebut, adalah karena tersebarnya bahasa orang-orang non Arab yang merusak ilmu Al-Quran. Lihatlah betapa banyak orang tidak bisa membedakan د (dal) dengan ذ (dzal), ظ (dzo`) dengan ض (dho’). Demikian pula س (sin) dengan ش (syin) atau denganث (tsa’), dan seterusnya. Maka kaidah merupakan salah satu jalan dalam upaya mempermudah bacaan Al-Quran.
4. Sumber dan Asal Muasal Ilmu Tajwid
Ilmu tajwid diambil dari Al-Quran dan Sunnah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Quran, serta para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in demikian seterusnya. Sampailah kepada ulama-ulama yang ahli dalam Al-Quran sehingga sampai ilmu qiro’at tersebut dengan cara yang mutawatir.

5. Nama
Ilmu tersebut dinamakan dengan ilmu tajwid, sedangkan tajwidnya sendiri ada dua, yaitu:

  1. Syafawi ‘Amali, yaitu bacaan Al-Quran yang bagus yang diambil dari orang yang ahli dalam membaca Al-Quran.
  2. Nadzory ‘Ilmi, yaitu suatu ilmu yang diajarkan secara turun-temurun menurut kaidah yang diletakkan oleh para ulama.
6.  Keutamaannya
Tajwid adalah ilmu yang mulia, karena seorang muslim dituntut untuk membaca Al-Quran pada tiap harinya, minimal (dalam) shalat sehari semalam. Demikan pula orang yang ahli dalam ilmu ini akan masuk surga bersama para malaikat yang mulia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَ الَّذِيْ يَقْرَؤُهُ وَ يَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَ هُوِ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Seorang yang pandai dalam Al-Quran akan bersama dengan para malaikat yang mulia lagi taat, dan seorang yang membaca Al-Quran dengan tersendat-sendat (terbata-bata) dan merasa keberatan maka baginya dua pahala.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
7. Manfaat
Manfaat bagi seseorang yang mempelajari ilmu tajwid adalah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Di dunia akan mendapat kedudukan yang sangat tinggi, demikian pula di akhirat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَ يَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Quran dan merendahkan sebagian yang lainnya juga dengan al-Qur’an.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
8. Tujuan
Tujuan ilmu tajwid yang paling utama adalah lancarnya seseorang dalam pengucapan lafal Al-Quran dengan ilmu yang telah disampaikan oleh ulama kita dengan memberikan sifat tarqiq (tipis), tebal, mendengung, panjang, serta pendeknya, dan seterusnya. Maka ilmu ini tidak akan bisa diketahui dengan sempurna kecuali harus berguru secara langsung kepada ulama yang ahli dalam ilmu ini.

9. Bahasan Ilmu Tajwid
Bahasan mencakup kaidah-kaidah dan hukum tajwid secara terperinci yang harus diketahui oleh seseorang yang belajar dalam ilmu ini.

Penyusun: Ummu Asiyah Athirah (dengan perubahan aksara dan ejaan seperlunya)
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Sumber:
Panduan Praktis Tajwid dan Bid’ah-bid’ah Seputar Al-Qur’an
250 Kesalahan Dalam Membaca Al-Fatihah, karya Al-Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashory, Cetakan Keenam (1429 H/2008 M),Maktabah Daarul Atsar Al Islamiyah, Magetan